Dulu Pernah Berjaya, Kenapa LG Berhenti Bikin HP?

Bagi pengguna ponsel era 2000-an, nama LG mungkin tidak asing didengar.
Perusahaan teknologi asal Korea Selatan itu pernah menjadi salah sat pemain besar di industri smartphone dengan sederet produk yang cukup populer di masanya.
Salah satu contohnya yaitu LG Prada, yang dikenal sebagai HP pertama dengan layar kapasitif (capacitive touchscreen). Lalu ada LG G3 yang dulu berhasil terjual lebih dari 10 juta unit di seluruh dunia.
Pangsa pasar smartphone global tertinggi LG tercatat sekitar 5,2 persen pada kuartal III-2014, berdasarkan data Strategy Analytics. Saat itu, LG mengirimkan rekor 16,8 juta smartphone dan menempati posisi keempat dunia, didorong oleh penjualan LG G3 serta seri L.
Namun, kiprah LG di pasar smartphone tidak bertahan lama. Setelah bertahun-tahun bersaing di pasar ponsel global, LG akhirnya memutuskan menghentikan bisnis ponselnya pada 2021.  Lantas, apa yang membuat LG menyerah?
Salah satu penyebab utamanya adalah persaingan yang semakin ketat di industri smartphone.
Seperti yang diketahui, di segmen premium dan kelas menengah, LG harus bersaing dengan Apple dan Samsung yang memiliki basis pengguna kuat.
Sementara itu, di segmen entry-level, perusahaan mendapatkan tekanan dari produsen asal China, seperti Xiaomi, Oppo, dan Vivo yang menawarkan spesifikasi lebih tinggi dengan harga terjangkau.
Adapun persaingan tersebut yang membuat penjualan smartphone LG terus menurun.
Pada 2020, pangsa pasar ponsel LG secara global tercatat hanya sekitar 2 persen. Menurut data Counterpoint Research, perusahaan menjual sekitar 7,6 juta smartphone pada kuartal IV 2020.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama Apple mampu menjual 81,9 juta unit iPhone. Samsung kemudian menyusul di posisi kedua dengan 62,5 juta unit, sedangkan Xiaomi mencatat penjualan sekitar 43 juta unit.
Penurunan penjualan itu jelas berdampak pada keuangan perusahaan. Menurut laporan Reuters, hingga 2021 divisi mobile LG telah membukukan kerugian selama hampir enam tahun berturut-turut dengan total sekitar 4,5 miliar dollar AS.
Di dalam grup LG, bisnis smartphone juga bukan lagi penyumbang pendapatan utama perusahaan. Divisi mobile LG dilaporkan hanya berkontribusi sekitar 7 persen terhadap total pendapatan perusahaan.
LG sendiri sempat dikabarkan akan menjual sebagian bisnis smartphone-nya kepada perusahaan Vietnam, Vingroup. Namun, rencana tersebut tidak pernah terealisasi.
Alih-alih terus bertahan di pasar ponsel, LG memilih hengkang dan mengalihkan investasinya ke sektor yang dinilai memiliki prospek lebih besar terhadap pendapatan perusahaan.
LG kemudian memfokuskan pengembangan bisnis pada bidang-bidang yang sedang tumbuh, seperti komponen kendaraan listrik, connected devices, smart home, robotika, kecerdasan buatan (AI), hingga B2B.
Keputusan tersebut lantas membuahkan hasil. Hingga 2026, divisi komponen kendaraan LG disebut memiliki order backlog senilai 90 triliun hingga 100 triliun won (sekitar Rp 1,11 kuadriliun).
Adapun total nilai pesanan tersebut dinilai mampu menopang pendapatan perusahaan LG dalam beberapa tahun ke depan, sebagaimana dirangkum dari BGR.
Selain itu, bisnis B2B (business-to-business) LG juga menunjukkan kinerja yang baik dan kini menyumbang sekitar 36 persen dari total pendapatan perusahaan.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *