Harga Memori Makin Mahal, Segmen HP Ini Kian Tertekan

Kenaikan harga chip memori DRAM dan NAND diperkirakan semakin menekan pasar smartphone murah sepanjang 2026. Kondisi ini membuat produsen kesulitan mempertahankan harga jual perangkat, sehingga mulai mengurangi fokus pada segmen tersebut. Firma riset pasar Omdia memperkirakan, jumlah pengiriman smartphone dengan harga di bawah 400 dollar AS (sekitar Rp 7,1 juta) akan turun lebih dari 22 persen secara global pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya. Menurut Omdia, penyebab utamanya adalah lonjakan harga memori yang membuat biaya produksi smartphone meningkat tajam, terutama untuk perangkat kelas bawah. Analis Omdia, Zaker Li, mengatakan bahwa tekanan terhadap segmen smartphone murah diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa kuartal mendatang seiring harga memori yang belum menunjukkan tanda-tanda turun. Baca juga: Saat Smartphone Samsung Bergeser Jadi Investasi Jangka Panjang Teka-teki di Balik Kasus Bunuh Diri Kepala SPPG di Bandung  “Produk kelas bawah kini semakin sulit menghasilkan keuntungan sehingga vendor secara bertahap mulai mundur dari segmen tersebut pada tahun ini,” tulis Omdia dalam laporannya. Akibat kenaikan biaya produksi, sejumlah produsen seperti Transsion, Oppo, Vivo, Honor, dan Xiaomi mulai menaikkan harga beberapa produknya demi menjaga margin keuntungan. Namun, strategi tersebut berisiko mengurangi permintaan karena konsumen di segmen smartphone murah umumnya lebih sensitif terhadap kenaikan harga. Biaya memori kini mendominasi Omdia mencatat, lonjakan harga DRAM dan NAND telah mengubah struktur biaya produksi smartphone secara signifikan. Pada kuartal I-2026, biaya memori menghabiskan sekitar 59 persen dari total biaya produksi (bill of materials/BOM) smartphone dengan harga di bawah 400 dollar AS. Pada perangkat dengan harga di bawah 99 dollar AS, porsinya bahkan mencapai 64 persen. Padahal, pada kuartal III-2025, kontribusi biaya memori di segmen smartphone di bawah 400 dollar AS masih berada di kisaran 31-32 persen dari total biaya produksi. Kenaikan biaya juga terjadi di segmen premium. Pada smartphone dengan harga di atas 800 dollar AS (sekitar Rp 14,3 juta), kontribusi biaya memori meningkat dari sekitar 11 persen menjadi 26 persen. Meski demikian, dampaknya lebih terasa di segmen entry-level karena ruang untuk memangkas biaya komponen lain sudah semakin terbatas, sebagaimana dirangkum dari halaman resmi Omdia.  Untuk menekan biaya produksi, vendor mencoba menghemat komponen seperti panel layar, sensor kamera, hingga modul frekuensi radio (RF). Namun, strategi ini dinilai semakin sulit diterapkan pada smartphone murah karena struktur biayanya sudah sangat ketat. Baca juga: Counterpoint: Pasar HP Global Anjlok 11 Persen, Terburuk dalam 13 Tahun Pasar premium masih bertumbuh Secara keseluruhan, Omdia memperkirakan pasar smartphone global akan menyusut sekitar 12 persen pada 2026. Penurunan ini terutama dipicu melemahnya permintaan di segmen smartphone dengan harga di bawah 400 dollar AS. Sebaliknya, pengiriman smartphone dengan harga di atas 400 dollar AS diproyeksikan masih tumbuh sekitar 5,7 persen. Menurut Omdia, tren tersebut dipengaruhi oleh pergeseran strategi produsen yang kini lebih fokus mengembangkan smartphone kelas menengah dan premium. Konsumen di segmen tersebut juga dinilai lebih mampu menerima kenaikan harga. Selain itu, produsen masih memiliki beberapa opsi untuk menekan biaya produksi perangkat premium, misalnya menggunakan panel OLED LTPS sebagai pengganti LTPO pada model tertentu, memakai sensor kamera berukuran lebih kecil, atau memanfaatkan chipset generasi sebelumnya tanpa mengurangi daya tarik produk secara signifikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *